Tuesday, March 26, 2013

Al-Arify, Yang Bukanlah Seorang Ulama

oleh Hasan Al-Jaizy

Sampai sekarang, saya masih terngiang dengan pelabelan bahwa Syaikh Al-Arify bukanlah seorang ulama (ahli al-ilm) namun bukan pula seorang yang masih dalam tahap pencarian ilmu (seperti saya dan Anda). Lalu, sederajat apa beliau? Sederajat ustadz!

Kesalahan-kesalahan beliau adalah miliknya, yang jika dibandingkan kebaikannya untuk kaum muslimin, insya Allah tertutupi. Setelah bertahun-tahun berdakwah (tentunya setelah mencari ilmu) di medan dakwah, pulang pergi negeri demi menyampaikan ilmu, memiliki beragam program tanya jawab di berbagai channel TV dakwah, dan apapun dikerahkan oleh beliau, lalu dilabeli, 'Beliau bukanlah ulama'. Lalu, sederajat apa beliau? Sederajat ustadz!


Ya, sederajat ustadz, seperti ustadz-ustadz kita. Sederajat dengan ustadz yang sudah bisa ceramah. Atau sederajat dengan ustadz yang sudah hebat menulis di situs atau blog. Yang ketika dipanggil 'ustadz', mengelak, 'Ngapwan, ana bukan ustadz.'

Lama-lama, Syaikh Muhammad Abdul Maqshud, dengan hafalannya yang kuat itu, dicap 'beliau bukan ulama' karena punya beberapa kesalahan. Kalau barometer penyebutan 'dia bukan ulama' adalah karena punya kesalahan yang (dianggap fatal), maka bisa jadi kawan-kawan yang mendeskreditkan Syaikh Ali Al-Halaby sah-sah saja; karena (menurut mereka) beliau punya salah. Yang ketika kita disuguhi jarh mereka, kita mengatakan, "Siapa kalian dan seberapa berilmu kalian di dunia nyata, sehingga sudah bisa men-jarh beliau?"

Baiklah. Al-Arify itu ngustadz. Beliau punya banyak hafalan, Allah memberikannya keutamaan dengan ceramah menarik, telah berdakwah di sana-sini, ikut forum para masyaayikh di beberapa tempat, membela Sunnah melawan Syi'ah di program2 TV, dan seterusnya.

Beliau itu sama ngustadznya seperti Anda, yang punya banyak tulisan, Allah berikan pada Anda keutamaan dengan tulisan terbaik, sehingga dinikmati kaum muslimin sana-sini, membela Sunnah melawan Bid'ah di situs-situs, dan seterusnya.

Jika ustadz madrasah tsanawiyyah tak bisa disamakan dengan ustadz di Jami'ah, seharusnya syaikh fulan juga belum tentu bisa disamakan dengan syaikh al-allamah fulan. Semoga setelah ini kita tidak dilabeli sebagai pelajar yang ghuluw terhadap seorang berilmu; sebagaimana seorang yang juga bukan seorang ulama kadang tidak sadar kalimatnya terkesan 'belagu'.



1 comment: