Thursday, November 15, 2012

Niat Memotong Wudhu

Niat Memotong Wudhu

Kapanpun seseorang berniat memotong suatu ibadah, seperti wudhu atau lainnya, ketika berada di tengahnya, maka terhukumi sebagaimana niatnya. Yakni batal ibadahnya. Dan jika ia ingin kembali melakukannya, maka ia melakukan dari awal.

Seperti ketika seorang siswa berwudhu, lalu berdering bel masuk. Ia pun pergi ke kelas dan melihat rupanya guru belum datang. Inginnya melanjutkan wudhunya. Maka ia tidak boleh meneruskan wudhu yang terpotong tadi. Melainkan harus mengulang dari awal.

Dalilnya [untuk masalah ini] adalah hadits Innama al-a'maalu bi an-niyyaat. Semua amalan tergantung niatnya. Dan karena ia telah meniatkan untuk memotong amalan, maka baginya apa yang ia niatkan. Wallahu a'lam.

[Liqa Al-Bab Al-Maftuuh: 2/14]

Curhat, Salahkah?


oleh Hasan Al-Jaizy

"Dilarang curhat! Curhatlah pada Yang Maha Tahu!"
"Jika kau curhat pada manusia, manusia belum tentu bisa menjawab. Sedang Tuhan pasti miliki jawaban!"
"Jika kau curhat pada kawan, bisa jadi ia sebenarnya adalah lawan. Maka, curhatlah pada Sang Rahman!"
"Curhat itu hanya boleh pada Tuhan saja!"

daaaaaan kalimat-kalimat lain yang menunjukkan seolah-olah penulisnya tidak pernah curhat seumur hidup pada manusia. Seakan-akan semua kesulitan, musibah dan ujian dia pendam terus dan hanya boleh dilaporkan kondisi hatinya pada Allah semata. Seakan kita ini hidup sendiri-sendiri. Tidak boleh mengekspresikan dan mengungkapkan yang tergaung di jiwa.

Seperti yang pernah saya katakan: "Mereka justru orang pertama yang melanggar aturan yang mereka buat sendiri!"

Ini contohnya:

Macam-macam Jihad


Macam-macam Jihad 

Jihad terbagi menjadi 3 macam:

[1] Jihad An-Nafs, yaitu berupaya/mengerahkan yang termampu dalam ketaatan terhadap Sang Rahman. Dengan cara: melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya. Dan jihad macam ini dibutuhkan oleh setiap jiwa muslim.

[2] Jihad Al-Munaafiqiin, yaitu jihad melawan orang-orang munafik. Dengan cara: menegakkan hujjah dengan ilmu dan bayaan [penjelasan], bukan dengan pedang atau tombak. Dalilnya:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ

"Wahai Nabi, berjihadlah [melawan] orang-orang kafir dan orang-orang munafik." [Q.S. At-Tahriim: 9]

Sketsa IX

Bertiga telusuri belantara ngeri. Pohon-pohon besar benar-benar berbisik melalui gesekan tiap dedaunan. Suara-suara hewan malam memperkelam suasana. Angin-angin liar nan dingin saling beradu kekuatan hingga tiap-tiapnya saling bentrok. Suyuthi, Syirozi dan Nawawi tak gentar hadapi itu semua. Tekad mereka sudah bulat, seperti bulatnya mata santriwati bernama Qomariah, biasa dipanggil Mariah ketika terlihat cantiknya. Kalau terlihat ganteng, tentu ia akan dipanggil Qomar.

Tiba-tiba dalang menyeruak untuk kedua kalinya. Kali ini dengan muka masam ia mengisyaratkan kekecewaan. Baiklah....baiklah...saya kembali ke benang merah.

Mereka bertiga saling bergandeng tangan. Jangan sampai satu dari mereka berpisah. Jika Suyuthi yang terpisah, maka merugilah Syirozi dan Nawawi. Karena hanya Suyuthi yang tahu jalan. Sedangkan Syirozi dan Nawawi tahu tempe. [tiba-tiba teringat muka masam dalang. Baiklah. Tidak boleh bercanda.]

Sedang ngeri-ngerinya berjalan, mereka bertiga mendengar suara orang-orang bercakap di suatu sudut yang tak jelas. Ketiganya berhenti melangkah. Namun degup jantung mereka semakin keras. Suara siapakah itu? Semakin dekat....semakin dekat...semakin dekat.

Suyuthi berusaha mengetahui pemilik suara dengan memasang telinganya tegak-tegak. Ia pun memasang kaca telinga agar bisa mendengar lebih jelas. Terdengar semakin dekat dari

Wednesday, November 14, 2012

Sketsa VIII



Suyuthi, Syirazi dan Nawawi komat-kamit membaca ayat Kursi namun suara tangisan tak kunjung usai. Sepertinya baterainya belum lama di-cas. 

Suyuthi mengepalkan tangan. Ia harus membalikkan badan dan melihat apa dan siapa gerangan di makam itu. Apakah benar itu temannya yang sedang menangis? Namun itu suara tangisan wanita. Atau lebih tepatnya, bersuara seolah nenek-nenek. Atau, malah nenek temannya?

Sembari menggamit tangan Nawawi untuk mendapatkan energi kekuatan hati untuk membalikkan badan, Suyuthi membalikkan badan....

DAN...

Suyuthi dalam kesamaran pandangan melihat ada seonggok tubuh di bawah beringin. Suara tangisan nenek-nenek dari sana. Berbaju putih. "Nawawi, Syirozi, balikkan badan. Kau lihat itu sekarang!" bisiknya dengan suara yang amat rendah namun tergesa.

Perlahan Nawawi dan Syirozi membalikkan badan sembari komat-kamit. Entah sudah berapa juz terlampaui namun hanya Ayat Kursi ia berisi.

Mereka bertiga memandang putih-putih di sana. Syirozi menelan ludahnya. Dan berharap ludah yang sudah ditelan kembali lagi agar stok ludahnya tidak habis. "Apakah itu temanmu, kawan?" tanyanya pada Suyuthi.

"Sungguh aku tiada mengerti. Aku pun tak hendak memastikannya. Butuh banyak nyawa dan tenaga dalam agar beraniku ke sana," tukas Suyuthi. Matanya tak jera memandang. Rasa penasaran dan ketakutan saling bercumbu satu sama lain. Belum ada pemenangnya. Ia membatin kemudian, 'Apakah benar itu Basuki, temanku yang ditanam di tempat ini malam ini? Aku dengar kabar dari para pendekar bahwa ia sedang mencari salah satu cabang ilmu hitam. Kiranya malam ini ia ingin menyempurnakan sesuatu dengan ritual. Tetapi mengapa suaranya semacam nenek-nenek berpunya? Aku tak kuasa menahan adanya penasaran.'

"Kawan, bagaimana jikalau kita lempar ia dengan kerikil atau semacamnya?" kata Nawawi. Ide bagus. Suyuthi menyetujui. Namun Syirozi agak keberatan, "Aku kurang mampu sempurnakan beraniku tuk tunaikannya. Biarlah kalian berdua mewakiliku."

Suyuthi pun terawal melempar beberapa butir kerikil dengan nekadnya. Bermodal nekad dan bismillah. Begitu pula dengan Nawawi. Namun mereka tak mampu memastikan apakah lemparan itu kena sasaran.

Tiba-tiba tangisan itu berhenti. Putih-putih itu terlihat bergerak sedikit. Hening. Sepi. Ngeri. Cekam. Keempatnya tergantikan kini dengan suara geraman. Geraman yang kuat.

"Mau apa kalian menggangguku?" teriak makhluk di bawah beringin. Tak perlu mencari tanda tanya, ketiga pendekar muda itu pun lari kocar-kacir ke jalan yang