Friday, July 27, 2012

Sedikit Tentang Witir

Sedikit mengenai Witir dari Syaikh Muhammad ibn Shalih Al-Utsaimiin:

فيجوزُ الوِترُ بثلاثٍ ، ويجوزُ بخمسٍ ، ويجوزُ بسبعٍ ، ويجوزُ بتسعٍ ، فإنْ أوترَ بثلاثٍ فله صِفتان كِلتاهُما مشروعة : الصفة الأولى : أنْ يَسْرُدَ الثَّلاثَ بِتَشهدٍ واحدٍ ، الصفة الثانية : أنْ يُسلِّمَ مِن رَكعتين، ثم يُوتِرَ بواحدة ،كلُّ هذا جَاءت به السُّنةُ ، فإذا فَعَلَ هذا مرَّةً ، وهذا مرَّةً : فَحَسَنٌ ، ويجوز أن يجعلها بسلام واحدٍ ، لكن بتشهُّدٍ واحدٍ لا بتشهُّدين ؛ لأنه لو جعلها بتشهُّدين لأشبهت صلاةَ المغربِ ، وقد نهى النبي صلى الله عليه وسلم أن تُشَبَّهَ بصلاةِ المغرب

"Witir boleh 3, 5, 7, 9 rakaat. Jika ia berwitir 3 maka mempunyai 2 cara dan keduanya ada syariatnya.

Pertama: Ia menunaikan 3 rakaat dengan satu tasyahhud
Kedua: Dia salam setelah 2 rakaat, lalu berwitir 1 rakaat.

Semuanya datang dari sunnah Nabi. Jika melakukan ini sekali dan itu sekali, it's ok.

Dia boleh menjadikan [3 rakaat tersebut] dengan satu salam saja, namun tasyahhudnya harus 1 juga, tidak boleh 2 kali. Karena kalau tasyahhudnya dua, maka miriplah dengan shalat maghrib. Sementara Nabi melarang shalat tersebut diserupai dengan shalat maghrib."

[Syarh Al-Mumti']

Beberapa Point

Beberapa point dari Al-Haafidz Syamsuddin Adz-Dzahaby [w. 748 H]:

[1] "Ushul Fiqh bukan sesuatu yang kau butuhkan wahai Muqallid"
[Yakni: jika kamu hanya ingin bertaqlid semata dalam beragama]

[2] "Dan wahai yang mengatakan bahwa bab ijtihad telah tertutup, ilmu Ushul Fiqh tidak memberikanmu faedah" 
[karena salah satu faedah/tujuan pembelajaran ilmu Ushul Fiqh adalah untuk membuka pintu ijtihad dalam diri seorang thalib dan mengenyahkan taqlid secara global]

[3] "Jika kamu mempelajarinya dan ternyata kamu tetap bertaklid [buta] pada imam-mu, maka kamu telah berbuat hampa dan sekedar mencapek-capekkan diri"

[4] "Jika kamu membacanya hanya untuk mendapatkan pekerjaan atau agar disebut [sebagai seorang alim, misalnya], maka ini hanyalah kesia-siakan dan contoh sebuah khayalan semata."

---Zaghal Al-Ilm: hal.41
---Lihat: Kitab 'Dhawabith at-Tarjih inda Wuquu' At-Ta'aarudh lada Al-Ushuliyyin'

Thursday, July 26, 2012

Menangis dan Tertawa

oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa point yang layak terfikirkan dan relatif terhakimi:

[1] Menangis adalah satu perbuatan yang sebagian orang melakukannya karena lemah diri, dan sebagian melakukannya karena kuatnya ikatan batin.

[2] Ada manusia yang anti-menangis. Selain karena gengsi tidak mengenal kata 'cengeng', ia juga tidak pernah memperhatikan ayat-ayat Allah. Manusia secara zahir melihat dia sebagai orang yang kuat dan berani. Tapi, sesungguhnya dia hanyalah si fasik karena enggan memperhatikan ayat, atau karena ia hanyalah si kafir karena menentang ayat.

[3] Ada manusia yang selalu tertawa; seakan hidupnya bahagia. Kata mereka: 'Gemuk dan tertawa adalah tanda hidup bahagia'. Dan sungguh, Allah memberi kesuburan dalam raga banyak dari orang kafir dan kesuksesan duniawi pada mereka, namun keabadian neraka adalah hadiah kekal bagi mereka.

[4] Jika dengan hanya melihat kerikil saja Anda sudah bisa mengingat Allah dan meresapi ingatan tersebut, maka Anda termasuk orang paling berbahagia di dunia; tak peduli betapa pahitnya atau miskinnya atau sempitnya atau terhimpitnya cerita hidup Anda saat itu.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/423682561006468
oleh Hasan Al-Jaizy

Lantunan Indah...Membantu Penghadiran Hati 

Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- pernah bersabda:

زيِّنوا القرآن بأصواتكم

"Hiasilah Al-Qur'an dengan suara-suara kalian"

Dan suara manusia berbeda tiapnya. Tidak semua memiliki kemampuan suara terhiaskan. Ada pula yang berupaya memperhias, namun ia gagal karena Allah memberinya 'keterbatasan' dalam hal ini. Di sinilah kita perlu menoleh pada segi 'pemaknaan' dan 'tadabbur'. 

Setiap orang di hari ini sebenarnya bisa...bisa...bisa sekali memahami ayat dengan tafsirnya, jika memang mereka bertekad dan berusaha keras. Bagi yang tak mampu berbahasa Arab, bisa mencari kitab berbahasa Indonesia. Bagi yng tak punya kitab, bisa mencari di Internet artikel-artikel yang membahas ayat-ayat Al-Qur'an. 

Lantunan Indah memang membantu penghadiran hati
namun pemaknakan yang sempurna adalah sebaik-baik penghadiran hati


Pertanyaannya sekarang:

"Apakah memang ketika kita membaca Al-Qur'an, hati kita hadir?"

Silahkan dijawab sendiri dengan cara membuka Al-Qur'an dan mulai membacanya dengan menghadirkan hati. Cobalah...dan teruslah seperti itu.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/423640784343979

Beberapa Point

oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa point yang layak diperhatikan:

[1] Bulan Ramadhan adalah bulan-nya Al-Qur'an; sehingga penganjuran membacanya lebih kuat dan ditekankan. 

[2] Namun, bukan berarti membacanya seperti berburu nafas dan tergesa. Justru layaknya kita membaca dengan irama, perasaan, pemaknaan dan waktu. Karena intinya bukan berapa banyak halaman atau berapa kali khatam dalam bulan ini. Betapa banyak manusia membacanya namun enggan mempedulikan pemaknaan.

[3] Ada seseorang membaca koran berisikan kabar-kabar terbaru dan penting. Namun ia sekedar membulak-balikkan mata di setiap kolom seperti alur mesin tik. Ia tidak memahami apa yang ia baca; karena yang terpenting adalah cepat tamat dan habis. Lalu, apa gunanya ia membaca semua isi koran tanpa mau tahu kabar yang diwartakan?

[4] Lebih-lebih dengan Al-Qur'an. Di dalamnya terdapat segala kepentingan, entah itu pelajaran dari masa lalu, obat atau gambaran masa kini, dan juga apa yang akan berlaku di masa depan. Juga terdapat banyak sekali hikmah, faedah dan kaedah yang bisa dipelajari. Bayangkan, jika kita membaca sekedar melewati huruf-huruf, kata-kata, kalimat-kalimat, ayat-ayat, halaman-halaman, juz-juz, dan selesai namun tak ada faedah yang tertancap di hati.....lalu apa gunanya?


Sementara....dalam Zaadul Ma'ad...

Dituangkan sifat Nabi bahwa: Bacaan beliau adalah bacaan yang sempurna, huruf perhuruf dan berhenti pada setiap ayat. Beliau juga khusyu mendengarkan bacaan para sahabatnya, seperti bacaan Ibnu Mas'ud. Dan saking khusyu'nya, beliau menitikkan air mata karena mendengar ayat-ayat terbacakan. [Zaadul Ma'ad - Ibnul Qayyim]

Beliau menitikkan air mata karena memahami kandungan ayat yang beliau dengar. Maka, sungguh...seseorang tidak bisa dikatakan khusyu' dalam bentuk sempurna kecuali ia memang memahami apa yang ia baca dan apa yang ia dengar. Karena kekhusyu'an disebabkan indahnya lantunan berbeda dengan kekhusyu'an disebabkan indahnya makna yang terfahami. Dan yang kedua inilah sebenar-benar kekhusyu'an.