Wednesday, February 6, 2013

Gurita Sawah

oleh Hasan Al-Jaizy


Gurita-gurita sawah itu ada, kata penduduk desa. Sempat bertanya aku apakah mimpi ini adanya atau bukan rupanya. Gerangan apa yang menjadikan gurita tinggal di sawah? Apakah orang-orang desa itu sedang mabuk atau memang terlalu tertekan karena diperas pengusaha dari kota?

Aku ingin mengetahui benar tidaknya buah bibir mereka. Kata orang, buah tak jatuh jauh dari pohonnya. Namun, buah bibir seringkali menggelinding kesana kemari sehingga warnanya tak keruan tercampur debu-debu intan. Kata orang, seperti bapak seperti anak. Namun, kenapa lebih banyak anak tenang dalam pelukan ibunya? Kenapa bukan bapaknya? Apa karena bapak adalah orang paling bangga kala suksesnya anak seraya berkata, 'Ia seperti aku!'? Juga mungkin karena ibu adalah makhluk paling rendah hati kala menatap suksesnya anak tanpa berkata 'Ia seperti aku', namun hanya membatin 'Tak sia aku mendidik'.

Malam-malam berkabut aku keluar. Kata mereka, gurita-gurita sawah keluar malam hari. Mereka suka menyelinap di balik tirai ilalang tinggi-tinggi. Sungguh aku merasa ngeri. Macam mana pula normalnya aku keluar malam hari demi menonton ilalang meninggi!? Kata mereka pula, mereka (para gurita) suka bersembunyi mengintip di dalam gerai petakan sawah. Aih, macam mana pula sudinya aku berbecek kaki pijakkan bumi di malam hari demi gurita kekononan!?

Tapi, rasa penasaranku tak mati-mati.

Lihat itu, ilalang meninggi. Tapi, setinggi-tingginya ilalang, ujung kepalanya tetap menunduk. Kalah pula manusia, yang tinggi pun belum sampai, pundi amal pun belum tunai, namun malas merunduk. Wah, ada beberapa pasang mata di sana! Kunyalakan senterku. Kusorot mereka. Hilang!

Berfikirlah keras-keras batinku. Apa yang hendak kulaku? Apa harus ku datangi mereka? Sedangkan aku tak tahu kekuatan mereka. Namun, ku merasa yakin jahatnya mereka. Gurita-gurita sawah...kenapa mereka ada di sawah? "Pergi aja loe ke laut," kata Sunan Alay. Aneh sekali. Apa mereka sudah tak punya daya di tempat asalnya? Kenapa harus menjajah sawah? Dan jikalau menjajah, kenapa hanya saat malam saja???

Gurita-gurita itu terlihat lagi. Mereka berseliweran di semak-semak berilalang. Mengerikan sekali. Lihat berapa puluh belalai melambai ke sana kemari. Yang ku tahu, mereka mendekatiku...Yang ku tahu, mereka marah padaku....Yang ku kira, mereka akan menangkapku...Yang ku tahu, mereka akan mencekik sekujur tubuhku...seolah-olah seluruhnya adalah leher.

Yang ku tahu...gurita-gurita itu ada di negeri ini. Banyak sekali...banyak sekali! Kasihan para petani.


No comments:

Post a Comment