Monday, May 28, 2012

Kecil Namun Terasa Berat

oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa amalan keciiiil terasa berat dan sulit atau malah tidak bisa dilakukan sama sekali.

Seperti sabda Rasulullah yang artinya: "Dan janganlah [ditambah penekanan saking dilarangnya] kamu meremehkan suatu dari perbuatan baik [ma'ruuf] sedikitpun." Ya, meskipun hanya sebatas senyum dari seorang teman atau tetangga.

Sebelumnya, "ma'ruuf" itu bermakna apapun dari perkara baik yang dikenal dan sesuai dengan syariat; seperti senyum, sedekah, membantu, menasihati dll. Jadi, jikalau ada perkara baik namun terjadi iltibaas [kamuflase] dan pemalsuan lahir penyembunyian asal batin, maka ini bukan 'ma'ruuf'.

Begitu juga dengan sabda Sang Mustafa: "Senyummu di wajah saudaramu adalah sedekah", karena dengan itu kita memberi sebuah arti positif dan pesan baik.

Namun seringkali itu terasa beraaat, bukan?


Atau, tersebab kekerasan hati kita sebagai muda-mudi?

Ada di antara teman atau kerabat berusaha menasehati dengan kalimat standar, namun kita menampik dengan sombongnya, meskipun tiada merasa diri kita sombong. Tapi itu termasuk sombong.

Kecil sekali amalan ini, namun jika terbiasa, sungguh luar biasa kelak dampaknya.

Bukankah menyingkirkan duri, halangan atau sesuatu yang menyakitkan dari jalan kaum muslimin adalah amalan kecil bagian dari iman? Nah, seberapa sering kita berjalan di jalan umum dan merasa berat ketika melihat ada batu atau lubang yang kemungkinan mencelakakan pejalan kaki atau pengendara motor? Jangankan perkara melakukan, berfikir ke sana seringkali jaraaaang, bukan?

Atau, ketika berjalan di gang, tampak ada jemuran orang jatuh meski satu pakaian, bersediakah kita merelakan tangan terulur tuk kembalikan ia pada tempatnya? Atau, kita menunggu ada yang melihat? Allah al-musta'aan [pada Allah lah kita meminta pertolongan]


 Terakhir:

Tidak ada yang lebih ikhlas manusia mendoakan manusia lain kecuali seorang ibu atau ayah pada buah hatinya.

Selagi ada kesempatan, maka jangan tunggu hingga di akhir sempatnya. Karena ketika tiada sempat terwujud, maka menangis dan menyesal takkan menghadirkan kesempatan. Separuh nafas bait doa ibu untuk anaknya lebih berharga dibanding sebanyak apapun air mata keluar dari anak ketika kesempatan berbakti telah tiada.

Selagi orang tua masih hidup, marilah kita hadirkan kehangatan bagi mereka. Karena kehangatan itu....semoga hangatkan pula kondisi kita dunia akhirat. Amiiin.

==================

Beberapa amalan kecil terhadap orang tua, juga teremehkan. Karena terkadang kita merasa lebih pintar atau lebih sukses atau lebih maju dari mereka berdua?

Ingat siapa dulu yang mengajari ABC dan Alif Ba Ta ... jikalau itu adalah orang lain selain mereka berdua, maka ingat juga siapa yang derita menanggung berbulan, mengasuh bertahun dan menafkahkan bermasa-masa?


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/394301480611243

No comments:

Post a Comment