Saturday, February 18, 2012

Kebesaran Nikmat Iman

oleh Hasan Al-Jaizy

Alhamdulillah, berkali-kali hingga belasnya bahkan puluhnya kita mendengar khatib atau penceramah berkata di awal risalah lisan:

"Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita nikmat terbesar, yaitu nikmat IMAN"


 Mau tahu apa kenikmatan terbesar sebelum kenikmatan terbesar tersebut [iman]?

Ini dia: ==>ILMU<==

Dalil: Firman Allah: [فاعلم أنَّه لا إله إلا الله]
"Maka ketahuilah [ILMUkanlah], bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan yang berhak disembah) selain Allah" [Q.S. Muhammad: 19]

Laa ilaaha illallah adalah kalimat terbaik mencakup makna agung, yaitu Tauhiid; karena-nya lah dinamakan "kalimat tauhiid".

Sekarang fikirkan ayat di atas, Anda takkan disebut beriman jika tak ucapkan kalimat Tauhiid serta mengakui maknanya. Anda takkan mengakui maknanya sebelum MENGETAHUI.

Jadi, MENGETAHUI [ILMU] adalah yang pertama.


Soal PERTAMA: "Jika telah mengetahui tapi belum dpt mengamalkan sepenuhnya bgmna hukumnya?"

Jawaban: "Jika telah mengetahui dan diberi kesempatan untuk mengamalkannya, namun tidak mengamalkan, maka ia berdosa dan pengetahuan [ilmu] yang ia miliki tersebut dianggap tak bermanfaat, atau bahkan bisa menjadi pencetus adzab di Hari Kiamat.
Jika mengetahui namun tak punya kesempatan atau ada udzur sehingga tak mampu mengamalkan, maka ini dimaafkan. Dan Allah Ta'ala Maha Mengetahui kondisi hambanya dan Maha Memaafkan."


Soal KEDUA: "Apakah dia termasuk org yg blm mndptkn hidayah?"

Jawaban: "Kita layak ketahui bahwa hidayah terbagi menjadi 2:

1. Hidayah Irsyaad [Umum]. Yaitu petunjuk yang diisyaratkan oleh para Nabi, Rasul, Sahabat, Ulama dan siapapun pada kebenaran.

2. Hidayah Taufiiq [Khusus]. Yaitu petunjuk yang hanya Allah pemberinya menuju kebenaran.

Dan segala hidayah sejatinya Allah yang memberi.

CONTOH 1:

Orang yang mendengar ceramah ilmu, kemudian mengatahui dan memahami, maka sejatinya ia telah mendapat hidayah [petunjuk] dari Allah melalui manusia [penceramah]. Masalah ia mengamalkan kemudian atau tidak, ia tidak boleh beralasan 'Saya belum dapat hidayah. Mudah2an Allah memberi saya hidayah secepatnya!' 

Ini salah!! Karena Allah telah memberinya hidayah Irsyaad melalui penceramah. Namun karena bangkangnya, ia tidak segera mengamalkan selagi mampu. Maka ini suatu bentuk kemaksiatan.

CONTOH 2:

Seorang gadis tahu bahwa jilbab itu wajib karena membaca buku tentangnya. Maka itu berarti, Allah telah memberinya hidayah [petunjuk ilmu] melalui buku. Jika ia tidak segera mengenakan jilbab, maka ia tidak boleh beralasan 'Saya belum dapat hidayah [untuk mengenakan jilbab]. Mudah2an Allah memberi saya hidayah secepatnya!' 

Ini salah!! Karena Allah telah memberinya hidayah Irsyaad melalui buku. Namun karena kehendaknya sendiri, ia tidak segera mengamalkan [mengenakan jibab] selagi mampu. Maka ini suatu bentuk kemaksiatan.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/332815380093187

No comments:

Post a Comment