Saturday, July 14, 2012

RIDHA MANUSIA : Capaian Tak Tergapai

oleh Hasan Al-Jaizy


Faedah dari petikan kalimat yang dinisbatkan kepada Al-Imam Asy-Syafi'i -rahimahullah-:

[1] "Ridha manusia adalah pencapaian takkan tergapai"

[2] "Tidak ada jalan untuk selamat dari omongan manusia"



PERTAMA:

[1] "Ridha manusia adalah pencapaian takkan tergapai"

[رضا الناس غاية لا تدرك]

"Ridha manusia adalah pencapaian takkan tergapai"

Penjelasan: Yang dimaksud manusia di sini adalah 'seluruh manusia', disebabkan dalam matan kalimat tersebut, tertulis الناس dengan keberadaan Alif Lam yang memberi faidah "istighraqiyyah" [mencakup setiapnya/jenisnya].

Berarti: Jika kamu menjadikan ridha dan sukanya seluruh manusia padamu sebagai tujuan, maka itu adalah tujuan yang MUSTAHIL. Bahkan sebaik-baik manusia, yaitu Nabi Muhammad -shallallahu alaihi wa sallam- [bershalawatlah atasnya!], memiliki musuh di dalam atau di luar selimut yang tidak ridha padanya dan pada apa yang beliau bawa. Bagaimana dengan kamu? Lebih jauh lagi...

Maka, jangan jadikan ridha manusia sebagai tujuan utama, melainkan berupayalah agar manusia ridha dengan apa yang kamu bawa. Jika ternyata mereka tidak ridha, maka biarkanlah; karena tujuanmu hanyalah 'menyampaikan', bukan 'meridha'kan'. 

Bukan berarti: 'Yang penting gue menyampaikan dengan cara apapun. Urusan ridha atau ga, itu urusan mereka' dengan pengacuhan terhadap metode, thariqah dan tata cara. Tidak. Termasuk kepentingan bagi penyampai adalah 'Fiqh Dakwah', yaitu memahami bagaimana menyeru dan menyampaikan sehingga diterima tanpa melanggar. Juga terkadang kita perlu 'Fiqh Waqi', yaitu memahami situasi-kondisi lapangan, medan, sosial juga psikologi manusia.

KEDUA:

[2] "Tidak ada jalan untuk selamat dari omongan manusia"

[2] [ليس إلى السلامة من الناس سبيل ]

Penjelasan:Selama kamu berbicara, menyeru dan menyampaikan, kamu takkan selamat dari kritikan, sindiran atau perlawanan; terlebih jika apa yang kamu katakan berlawanan dengan apa yang mereka fikirkan. Maka, jika memang keselamatan itu lebih baik, maka pilihlah keselamatan. Ini pun harus didasari pemahaman tekstual dan kontekstual. Tinjauan nash dan tinjauan realitas diserasikan dan dilaraskan. 

Dan jikalau mau-tak-mau takkan selamat dari perlawanan, maka biarkanlah mereka melawan; karena tiada manusia kecuali ia pasti memiliki lawan. Bahkan tiap jenis hewan memiliki lawan dan saingan. Lebih detail lagi: tiap satu nyawa hewan, memiliki lawan. Bagaimana dengan penyeru kebenaran? Tiap satu penyeru kebenaran, memiliki lebih dari satu pelawan kebenaran.

Maka:

Maka, takkan selamat kamu dari lisan pelawan, entah disebabkan dengki, iri, mukaabarah, jahd, atau lainnya yang negatif.

Jika begitu rupanya, apakah kamu mundur? Satu kalimat:

"Never say die when you are not dead"


Hasan Al-Jaizy, 15 July 2012

http://www.facebook.com/notes/hasan-al-jaizy/ridha-manusia-capaian-tak-tergapai/493436440672582

No comments:

Post a Comment